Ada empat pulau besar di Kabupaten Raja Ampat yang menjadi ciri khas kepulauan ini, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Batanta, Pulau Salawati, dan Pulau Misool. Kawasan ini juga terdiri dari ratusan gugusan pulau-pulau kecil lainnya.
Penyu Hijau (Chelonia mydas) merupakan salah satu jenis satwa laut yang potensial terdapat di wilayah kepulauan Raja Ampat. Hitipeuw (2002), Gearheart (2005), serta Gearheart (2007) melaporkan ada aktivitas persarangan penyu Hijau dan penyu Sisik (Eretmochelys imbricata) di Kabupaten Raja Ampat. Selain itu juga dijumpai banyak bukti-bukti pemangsaan sarang oleh Biawak (Varanus sp) dan pengambilan oleh manusia. Aktivitas persarangan penyu Sisik mendomisasi pantai-pantai yang kecil dan sempit yang tersebar di sekitar rangkaian Pulau Misol sebelah tenggara Kabupaten Raja Ampat. Penyu Hijau juga memanfaatkan pantai-pantai ini, akan tetapi dijumpai dalam jumlah yang lebih banyak di pantai yang panjang di Pulau Sayang dan Pulau Piai. Di Raja Ampat, dinyatakan bahwa setidaknya terdapat 17 pantai peneluran penyu yang tersebar di seluruh kepulauan setempat (Anon, 2006).
Perburuan penyu dan telurnya dalam jumlah yang cukup banyak di Raja Ampat diyakini berdampak buruk bagi populasi penyu, seperti yang terjadi di pantai peneluran di Pulau Waigeo bagian Utara dan Kepulauan Asia (pulau Fani). Di kawasan ini, hampir tidak ada lagi penyu yang naik untuk bertelur akibat dari perburuan yang berlebihan. Pada tahun 2005, lebih dari 100 ekor penyu diburu di Pulau Piai dan antara bulan April-Desember 2006 tercatat ada 91 ekor yang diburu. Jumlah tersebut hanya dihitung berdasarkan jumlah karapas bekas buruan yang ditinggalkan di pantai Pulau Piai dan Pulau Sayang, serta jumlah yang terpantau saat masyarakat (nelayan) sedang mengambil penyu di pulau ini. Gearheat (2005), mengemukakan bahwa pada bulan Oktober 2005 ada 60 penyu betina yang diambil oleh masyarakat, dan pada acara-acara keagamaan lebih dari 200 ekor penyu dewasa di ambil dalam wakru kurang dari satu bulan.
Sejak tahun 2006 Yayasan Penyu Papua (YPP) telah memulai program konservasi penyu di pulau Sayang dan Piai. Beberapa program utama yang dilakukan adalah Patroli laut untuk pengamanan kawasan, memberikan pendidikan konservasi penyu kepada awak kapal-kapal nelayan yang berkunjung ke pulau Piai dan kepada masyarakat terutama pengguna penyu, serta melakukan pemantauan intensif untuk pendataan dan protesi penyu dan habitat penelurannya. Paper ini akan menggambarkan hasil kegiatan pemantauan populasi penyu Hijau di wilayah ini.
Materi dan Metode
Pemantauan dilakukan di Pulau Piai Kabupaten Raja Ampat Provinsi Papua Barat (Gambar 1). Secara geografis Pulau Piai terletak pada koordinat 0o20’ - 0o16’ LU dan 129o53’ - 129o50’ BT dengan luas sekitar 94 km2. Bagian utara Pulau Piai berbatasan dengan Laut Pasifik, di selatan berbatasan dengan Pulau Sayang, di barat berbatasan dengan Laut Halmahera, dan bagian timur berbatasan dengan Laut Waigeo Utara dan Kepulauan Ayau (Ballamu, 2009). Panjang pantai peneluran sekitar 3 km, dengan pantai yang efektif untuk tempat peneluran penyu sekitar 2 km.
Pemantauan pantai peneluran dilakukan dalam dua tahap, yaitu pada malam dan pagi hari. Pemantauan malam fokus pada pengamatan penyu dan perilakunya. Hal-hal yang dilakukan pada pengamata malam meliputi observasi aktivitas bertelur, membedakan jenis penyu yang naik ke pantai, pemasangan flipper tag, dan juga untuk pengawasan terhadap pencurian penyu. Pemantauan pagi bertujuan untuk mamastikan jejak penyu yang belum dicatat pada pemantauan malam dan untuk memantau aktivitas pemangsaan sarang terutama oleh Biawak (Varanus Sp.). Pada pemantauan pagi juga dilakukan pengamatan sarang yang menetas, serta pengawasan aktivitas masyarat diperairan dekat pantai peneluran (Velez-Zuazo, 2006; Ballamu, 2010).
Pemantauan dilakukan oleh dua tim, dan masing-masing tim terdiri atas tiga orang. Dalam satu tim, seorang melakukan pencatatan dan dua lainnya mengamati aktivitas penyu dan mengambil data yang diperlukan. Semua data yang di catat ke dalam blanko data pemantauan yang telah disiapkan. Beberapa data yang telah di koleksi selama ini diantaranya adalah data jumlah sarang, ukuran panjang lengkung karapan penyu, evaluasi persentasi sukses penetasan sarang (telur), pemangsaan sarang oleh Biawak (Varanus Sp.), data perubahan/lebar pantai peneluran, dan penandaan (tagging). Pengukuran panjang lengkung karapas dilakukan dengan metode yang dianjurkan oleh Bolten (1999),
Selain data primer, paper ini juga akan menampilkan data sekunder yang didapatkan dari beberapa instansi terkait, masyarakat sekitar dan informasi pustaka. Pengamatan dilakukan pada titik-titik stasiun yang didatangi oleh penyu pada saat akan bertelur, dimana titik-titik stasiun ini sudah ditentukan sebelumnya, yaitu di sektor S1, S2, B1 dan B2 (Gambar 1).
Khusus evaluasi sukses penetasan, setelah masa inkubasi mencapai 10 minggu (70 hari), sarang telur penyu akan digali untuk perhitungan jumlah telur baik yang sudah menetas maupun yang tersisa (Anon, 2002). Sukses penetasan dan sukses keluar dari sarang (emergence) kemudian dihitung menggunakan rumus seperti yang di kemukakan oleh Miller (1999); dan Pilcher (2004).

Gambar 1. Lokasi peneluran Penyu Hijau di Pulau Piai. Masing-masing sektor diberi kode S1 (nomor patok 0-4), S2 (nomor patok 5-16), B1 (nomor patok 17-26), B2 (nomor patok 27-36), U1 (nomor patok 37-48), U2 (nomor patok 49-60).
Hasil
Ukuran Karapas Penyu
Sejumlah 4465 penyu Hijau yang dipantau selama periode 2007 - 2013 berhasil diukur panjang lengkung karapasnya (PLK). PLK penyu Hijau yang diamati berkisar antara 71 dan 122 cm, dengan rerata dan simpangan baku adalah 102,4 cm ± SD 5.95 cm.
Tabel 1. Data panjang lengkung karapas penyu Hijau (Chelonia mydas) yang dipantau di Piai selama periode 2007 – 2013
